
Jangan Bekerjasama dengan Mereka yang Tidak Pernah dan Tidak Suka Membaca Buku
Oleh: Aldo el-Haz Kaffa
Ada satu kenyataan yang sering baru kita sadari setelah terlambat: bahwa watak seseorang bisa terbaca dari hubungannya dengan buku. Bukan soal seberapa banyak ia mengutip teori, tapi seberapa sering ia membuka ruang dalam dirinya untuk belajar.
Karena ketika kita menjalin kerja sama—dalam usaha, dalam wirausaha, dalam proyek besar, atau bahkan dalam gerakan kecil—yang kita satukan bukan hanya modal dan tenaga. Kita menyatukan cara berpikir, cara melihat dunia, cara mengelola konflik, dan cara memaknai perjalanan.
Dan di sinilah bedanya terasa sangat jelas. Orang yang tidak membaca berjalan tanpa peta. Ia mungkin berani, mungkin penuh percaya diri, mungkin pandai bicara. Tapi tanpa membaca, ia berjalan dengan peta yang kosong — mengandalkan insting yang belum ditempa, intuisi yang belum diperkaya.
Ia mengambil keputusan cepat, namun jarang tepat. Ia merasa tahu banyak, padahal pengetahuannya hanya serpihan-serpihan kecil dari obrolan dan media sosial.
Ketika masalah muncul, ia panik. Ketika perbedaan pandangan muncul, ia defensif. Ketika kritik datang, ia tersinggung. Bukan salah siapa-siapa — ia hanya tidak punya wadah di dalam dirinya untuk menampung kedalaman.
Sementara orang yang membaca berjalan dengan cahaya. Ia tidak lebih suci, tidak lebih unggul. Ia hanya lebih siap. Membaca mengajarinya hal-hal yang tidak pernah dibahas orang dalam percakapan biasa: bagaimana menghadapi kegagalan, bagaimana menahan diri ketika marah, bagaimana menimbang sebuah keputusan, bagaimana memahami manusia lain.
Ia belajar dari pikiran-pikiran besar sepanjang zaman. Ia meminjam kebijaksanaan orang-orang yang telah mengalami ribuan kegagalan dan keberhasilan sebelum kita terlahir. Dengan membaca, ia tidak hanya cerdas—ia menjadi bijak. Dan kebijaksanaan itulah yang kita butuhkan dalam kerja sama apa pun.
Kerja sama tanpa kedalaman adalah bencana yang menunggu waktu. Jika kita membangun usaha bersama orang yang tidak pernah membaca, kita akan menghadapi ini:
✓Cara berpikir yang pendek. ✓Keputusan yang impulsif. ✓Ego yang mudah meledak. ✓Pandangan yang sempit. ✓Ketidaksiapan menghadapi kompleksitas. ✓Ketidakmampuan menerima kritik.
Lalu usaha itu bukan hanya sulit tumbuh—tapi sulit bertahan. Karena kerja sama adalah seni mengelola manusia, dan manusia tidak bisa dipahami hanya dari logika praktis. Dibutuhkan kehalusan, wawasan, dan keluasan yang hanya bisa diperoleh lewat membaca. Membaca melatih kita untuk menjadi manusia yang lebih dalam, bukan hanya lebih pintar.
Saat kita membaca, kita berlatih membangun kesabaran. Kita belajar mendengar suara-suara yang tidak memaksa, tidak teriak, tidak memprovokasi. Kita belajar memahami bahwa dunia lebih luas daripada pikiran kita sendiri. Orang yang membaca mengerti bahwa konflik bukan untuk dimenangkan, tetapi untuk dipahami. Bahwa perbedaan bukan ancaman, tetapi peluang.
Inilah manusia yang menyuburkan kerja sama. Inilah rekan yang membuat perjalanan terasa lebih ringan dan lebih bermakna. Karena itu kita berhak memilih. Kita tidak sombong. Kita tidak merasa lebih tinggi. Kita hanya menjaga apa yang sedang kita bangun:
✓usaha yang ingin tumbuh, ✓kerja sama yang ingin sehat, ✓hubungan yang ingin matang, ✓dan masa depan yang ingin kita jaga bersama.
Maka jika seseorang tidak pernah dan tidak suka membaca buku — bukan berarti ia buruk. Hanya saja ia belum siap untuk berjalan bersama kita dalam kerja yang memerlukan kedalaman hati dan keluasan nalar.
Perjalanan kita terlalu panjang untuk ditemani orang yang pendek pandangannya. Perjalanan kita terlalu berat untuk dibagi dengan orang yang enggan belajar. Perjalanan kita terlalu berharga untuk diserahkan pada mereka yang menolak mengembangkan dirinya.
Karena kerja sama terbaik lahir dari pikiran yang terbuka, hati yang penuh, dan jiwa yang terus mencari. Dan membaca adalah pintu itu. Pintu kecil yang mengantar kita menjadi manusia yang lebih lapang, lebih tenang, lebih matang, dan lebih siap menghadapi dunia.
Maka jagalah perjalanan kita. Pilihlah rekan yang membaca. Pilihlah rekan yang ingin tumbuh. Sebab kesuksesan bukan hanya soal apa yang kita bangun — tetapi dengan siapa kita melangkah. (*)





