
Mataram, newsmataram.id – Hasil analisis dinamika atmosfer, saat ini terpantau adanya gangguan atmosfer yang mampu menyebabkan peningkatan potensi cuaca ekstrem di sekitar wilayah Indonesia khususnya disebagian besar wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Aktifnya Madden–Julian Oscillation (MJO) dan gelombang atmosfer kelvin di wilayah NTB, adanya sirkulasi siklonik di Samudera Hindia Selatan Jawa Timur yang membentuk pertemuan angin dan belokan angin di sekitar wilayah NTB, kelembapan udara yang cenderung basah di berbagai ketinggian dan labilitas atmosfer kuat yang mendukung proses konvektif pada skala lokal diamati di NTB.
Kepala Stasiun Meteorologi ZAM, Satria Topan Primadi, S.Si, dalam keterangan tertulisnya menjelaskan hasil analisis kondisi dinamika atmosfer menunjukkan potensi peningkatan pertumbuhan awan konvektif (awan cumulonimbus) dibeberapa wilayah NTB.
Wilayah dengan potensi hujan sedang hingga lebat, yang dapat disertai petir kilat dan angin kencang pada periode 11 – 18 November 2025, antara lain Kota Mataram, Lombok Utara,Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa, Sumbawa Barat, Dompu, Bima, Kota Bima
Sementara tanggal 12 November 2025, diperkiarakan akan terjadi kategori Tinggi Gelombang 1.25 – 2.5 meter di selat Lombok bagia Selatan, Selat Alas bagian Selatan, Selat Sape bagian Selatan, dan Samudera Hindia Selatan NTB.
Demikian juga pada 13 November 2025, diprediksi Tinggi Gelombang 1.25 – 2.5 m: Selat Lombok bagian Selatan, Selat Alas bagian Selatan, Selat Sape bagian Selatan, dan Samudera Hindia Selatan NTB.
BMKG menghimbau masyarakat yang tinggal dan beraktifitas di wilayah rawan bencana, dihimbau agar terus waspada dan siaga, terutama saat terjadi hujan lebat, untuk mengantisipasi dampak yang dapat terjadi, seperti banjir, banjir bandang, banjir rob, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, sambaran petir, dan pohon tumbang.
Demikian pula stakeholder, diharapkan untuk memastikan kapasitas infrastruktur dan sistem tata kelola sumber daya air siap untuk mengantisipasi peningkatan curah hujan. Melakukan penataan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan dan tidak melakukan pemotongan lereng atau penebangan pohon yang tidak terkontrol serta melakukan program penghijauan secara lebih masif.
Termasuk melakukan pemangkasan dahan dan ranting pohon yang rapuh serta menguatkan tegakan/tiang agar tidak roboh tertiup angin kencang. Masyarakat di himbau untuk menjauh dari lokasi kejadian dengan radius yang aman atau ketempat yang tidak berdampak. (mtr01/bmkg11).





