
Mataram, newsmataram.id – Pada periode musim kemarau ini, masyarakat NTB dihimbau agar dapat menggunakan air secara bijak, efektif dan efisien. Masyarakat juga perlu mewaspadai akan terjadinya bencana kebakaran hutan dan lahan yang dapat terjadi di periode musim kemarau ini.
Masyarakat dapat memanfaatkan penampungan air seperti embung, waduk, atau penampungan air hujan lainnya, mengantisipasi periode puncak musim kemarau yang sedang memasuki wilayah NTB khususnya di wilayah-wilayah yang sering terjadi kekeringan.
Masyarakat diminta tetap perhatikan informasi BMKG mengantisipasi dampak bencana maupun kerugian dalam perencanaan kegiatan Anda ke depan dan tetap selalu menjaga kesehatan.
BMKG Stasiun Klimatologi Nusa Tenggara Barat merilis, Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis pada level AWAS terdapat di Kabupaten Lombok Timur (Kecamatan Sambelia). Level SIAGA terdapat di Kabupaten Sumbawa (Kecamatan Buer dan Utan). Level WASPADA terdapat di Kabupaten Sumbawa (Kecaatan Moyo Utara) dan Kota Bima (Kecamatan Rasanae Timur).
Curah hujan di wilayah NTB pada dasarian II Juli 2023 umumnya dalam kategori Rendah (0 – 50 mm/das) yang terjadi secara merata di seluruh wilayah NTB. Curah Hujan tertinggi tercatat terjadi di Pos Hujan Lunyuk, Kabupaten Sumbawa sebesar 10 mm/dasarian. Sifat hujan pada dasarian II Juli 2023 di wilayah NTB didominasi kategori Bawah Normal (BN) yang terjadi secara merata di seluruh wilayah NTB.
Semetara hasil monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut – turut (HTH) provinsi NTB secara umum berada pada kategori ‘Pendek’ (6 – 10 hari) hingga ‘Menengah’ (11 – 20 hari). Namun terdapat beberapa titik yang termonitor dalam kategori ‘Ekstrem Panjang’ (>60 hari) yaitu di pesisir utara Kabupaten Lombok Timur, serta pesisir Utara Kota Bima. HTH terpanjang tercatat di pos hujan Labuhan Pandan Kabupaten Lombok Timur selama 101 hari tanpa hujan.
Update Kondisi Dinamika Atmosfer terakhir menunjukkan Indeks ENSO berada pada kondisi El Nino Lemah (indeks ENSO : +0.94) yang sudah berlangsung sejak awal Juni 2023. Indeks IOD pada awal Juli 2023 menunjukkan kondisi IOD Netral (-0.20), diprakirakan kondisi IOD Positif akan kembali terjadi setidaknya hingga Oktober 2023.
Aliran massa udara umumnya didominasi angin timuran dan merata terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Anomali suhu muka laut di wilayah perairan Indonesia umumnya menunjukkan kondisi Hangat (+0.47°C). Di wilayah perairan Jawa-Nusa Tenggara, anomali suhu muka laut menunjukkan kondisi lebih hangat (+0.5 s/d +1.0°C).
Sedangkan anomali suhu muka laut Indonesia pada Agustus mendatang diprakirakan akan didominasi kondisi Dingin hingga Hangat khususnya wilayah Indonesia bagian Tengah hingga Timur. Kemudian, kondisi SST hangat tersebut tetap bertahan dan meluas hingga Januari 2024.
Pada dasarian III Juli 2023 (21 – 31 Juli 2023) diprakirakan terdapat peluang Curah Hujan >20 mm/dasarian dengan probabilitas <30 persen merata di seluruh wilayah NTB. Peluang Curah Hujan dengan intensitas 50 – 100 mm/dasarian merata di seluruh wilayah NTB dengan peluang <10 persen.
(BM21/RED)





