Site icon NEWS MATARAM

Analisis Kinerja 5 Tahun Terakhir & Urgensi Intervensi Pemda

EVALUASI STRATEGIS LPTQ PROVINSI NTB

Analisis Kinerja 5 Tahun Terakhir & Urgensi Intervensi Pemda

Oleh: HM Sodri

Profesi: Qori

(Pecinta dan pemerhati qori asal Lombok, NTB – Menetap di Jakarta)

 

 

I.         Ringkasan Eksekutif

Dalam 5 tahun terakhir, posisi Provinsi NTB dalam ajang nasional menunjukkan tren penurunan peringkat sebesar 100% secara relatif (dari peringkat 5 ke peringkat 10).

Secara matematis:

Sementara itu, rata-rata provinsi Top 5 nasional stabil di angka 1–4 tanpa fluktuasi signifikan.

Artinya: NTB bergerak turun, sementara provinsi unggulan stabil dan konsisten.

II.         Tabel Komparasi Nasional (2020 – 2025) 

 

 

Tahun

 

NTB

DKI

Jakarta

Jawa Barat Jawa Timur Sumatera Barat  

Banten

Rata- rata Top 5
2020 5 1 2 3 4 6 3.2
2021 7 1 2 3 4 5 3.0
2022 8 2 1 3 4 5 3.0
2023 6 1 2 3 4 5 3.0
2024 9 1 2 3 4 5 3.0
2025 10 1 2 3 4 5 3.0

 

Provinsi pembanding adalah langganan 5 besar pada ajang Musabaqah Tilawatil Quran Nasional. 

 

III.         Analisis Tiga Aspek Strategis

Indikasi masalah:

Jika dibandingkan dengan DKI Jakarta dan Jawa Barat:

Indikasi NTB:

2).   Manajemen Pembinaan 

Gejala umum yang muncul dari pola penurunan:

Provinsi Top 5 memiliki:

Jika NTB tidak memiliki model ini, maka kemunduran bukan soal SDM, tetapi soal manajemen sistem.

3).   Pendanaan dan Political Will 

Tren penurunan 5 tingkat dalam 5 tahun menunjukkan:

Jika dibandingkan provinsi besar:

IV.  Grafik Tren 

Grafik yang ditampilkan memperlihatkan:

Secara statistik sederhana:

Kenaikan gap = 250%.

Artinya: NTB bukan hanya turun, tapi tertinggal semakin jauh.

V.  Kesimpulan 

Jika tren ini tidak dikoreksi:

VI.  Rekomendasi untuk PEMPROV NTB 

VII.  Penegasan 

Tulisan ini bukan serangan terhadap LPTQ, tetapi evaluasi berbasis tren. Data menunjukkan kemunduran relatif 100% posisi dalam 5 tahun.

Jika NTB ingin kembali ke 5 besar nasional, maka:

Reformasi manajemen + konsistensi pembinaan + political will anggaran adalah kunci.

PENUTUP 

Demikian kira-kira analisa ini saya sampaikan, sebagai seorang qori angkatan tahun 1980-an yang selalu mewakili NTB di tingkat nasional dan merasakan langsung dinamika pembinaan di masanya.

Tulisan ini lahir bukan dari keinginan untuk menghakimi, melainkan dari rasa cinta dan tanggung jawab moral terhadap masa depan generasi qori dan qoriah NTB. Harapan saya sederhana: agar pembinaan Qur’ani di daerah kita kembali menjadi kebanggaan bersama, terkelola secara profesional, dan mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah. Semoga evaluasi ini menjadi bahan perenungan dan pijakan perbaikan ke depan. (*).

 

Exit mobile version