Site icon NEWS MATARAM

Biografi Letjen (Purn) Solihin GP, Tokoh Jabar Paling Senior yang Wafat Pagi Ini

Jakarta, newsmataram.id – Solihin Gautama Purwanegara atau Solihin GP, merupakan salah satu tokoh Jawa Barat paling senior. Ia lahir pada 21 Juli 1926 di Tasikmalaya. Solihin GP besar dan lahir dari keluarga priyayi Sunda di Tasikmalaya, sehingga ia dapat mengenyam pendidikan ala Eropa di jaman itu. Mulai dari ELS, MULO, hingga AMS (setara SMA).

Setamat sekolah Solihin GP bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang baru saja terbentuk pasca kemerdekaan RI. Dengan latar belakang sekolahnya yang tinggi pada saat itu, ia menjadi Komandan TKR wilayah Bogor. 

Setelahnya ia bergabung juga ke Divisi Siliwangi, divisi yang terkenal sebagai salah satu kekuatan militer di Indonesia saat itu.

Usai masa kemerdekaan dan orde lama, Presiden Soeharto mengangkat Solihin GP  menjadi Gubernur Jawa Barat pada tahun 1970. Ia memegang jabatan itu  hingga 1975. 

Periode jabatan Solihin GP bersamaan dengan periode Jakarta era Gubernur Ali Sadikin. Bahkan Ali Sadikin dan Solihin GP sama-sama orang Jawa Barat. Jika Solihin kelahiran Tasikmalaya, maka Ali Sadikin kelahiran Sumedang.

Saat memimpin Jawa Barat, Solihin sempat merasa kesal dengan ucapan Ali Sadikin ketika mereka bertemu.  Kala itu, Solihin sowan ke Ali Sadikin yang saat itu juga berpangkat Letjen KKO (Marinir).

Saat Solihin menjadi Gubernur Jawa Barat pada 1970, Ali Sadikin sudah empat tahun memimpin Jakarta. Solihin bermaksud berkonsultasi dengan Ali Sadikin yang lebih berpengalaman menjadi gubernur. 

Namun,  ia karena merasa dilecehkan oleh Ali Sadikin. Dalam buku ‘Cendramata 80 Tahun Solihin GP’ Solihin menceritakan,  Ali Sadikin ingin ‘mengambil’ wilayah perbatasan yang menurutnya terbengkalai. 

“Jawa Barat tidak bisa melakukan pembangunan, sedangkan saya didesak oleh masyarakat agar memperluas daerah perbatasan antara DKI Jakarta dan Jawa Barat. Untuk itu, agar diikhlaskan saja saya membangun daerah perbatasan itu. Apalagi kan kita sama-sama lahir di Jawa Barat,” kata Ali sambil menunjuk peta Kabupaten Bekasi, Tangerang dan sebagian wilayah Kabupaten Bogor. 

Kontan saja Solihin GP menolak permintaan Ali Sadikin. Setelah itu ia kembali ke Bandung dengan perasaan kesal dan berniat sepenuh hati membangun wilayah Jawa Barat yang berbatasan dengan DKI Jakarta.

Solihin GP adalah Gubernur yang menyulap wilayah Indramayu sebagai sentra produksi padi dengan ‘Gogo Rancah” atau perpaduan menanam padi di lahan kering dan lahan basah. 

Program ini kemudian yang menjadi pemicu peningkatan produksi padi di Tanah Air hingga akhirnya pada tahun 1984-1985 Indonesia berhasil swasembada padi.

Di lingkungan militer, Solihin GP merupakan salah satu tokoh Divisi Sililwangi paling senior. Meskipun tidak pernah menjabat sebagai Panglima Kodam Siliwangi, nama Solihin GP sangat dihormati di jajaran Kodam Siliwangi.

Sebagai tentara Siliwangi, Solihin GP pernah  menjabat sebagai Panglima Komando (Pangdam) Hassanudin, Makassar pada tahun 1964-1968.

Ia juga sempat menjadi Gubernur Akmil di Magelang pada tahun 1968-1970. Gubernur Akmil menjadi jabatan militer terakhir Solihin GP, karena setelah itu ia menjadi Gubernur Jawa Barat dan selanjutnya selalu menduduki jabatan sipil. (jk01/vr05).

Exit mobile version